27.6.15

Closer

Belakangan, banyak banget hubungan teman saya yang pacaran bertahun-tahun lamanya berakhir begitu saja. Oh well, mungkin nggak benar-benar "begitu saja" karena dibalik berakhirnya suatu hubungan, selalu ada segudang masalah dan pertimbangan. Di sisi lain, banyak juga teman saya yang tetap setia mempertahankan hubungannya meskipun berat, stuck, lelah, dan sebenarnya udah nggak mungkin diperjuangkan. So that I'm just wondering, how much it hurts?

Kalau bicara tentang seberapa parahnya luka hati (buat yang udah putus, maupun yang masih bertahan), jelas parah. Mengambil keputusan untuk bertahan atau melepaskan disaat semuanya udah sangat-dekat itu nggak mudah, dan (sedikit-banyak) pasti meninggalkan luka.
Ya, that too much will hurt you so much kan?
Logisnya, di usia twenty-something seperti ini, cinta saja nggak akan cukup buat mempertahankan suatu hubungan. Ada banyak pertimbangan lain. Tentang keluarga, prinsip, karir, dan masa depan. Ada kalanya harus menyerah dan mengalah pada keadaan. Ada kalanya juga harus kuat bertahan demi menunggu keajaiban yang akan menyelesaikan.
"Lalu, kenapa hubungan yang terlalu dekat akan menjadi complicated and left the uncomfortable feeling for us?"
Teman saya pernah bertanya seperti itu. And... I couldn't answer it properly. Semuanya masih baik-baik saja, sebelum makin dekat, makin lama, makin cinta, makin mendalam, yang sering berakhir dengan : makin menyakitkan.

Nggak bisa dipungkiri kalau semakin dekat dengan seseorang, secara nggak langsung kita udah "membagi" lebih dari separuh hidup kita buat orang itu. Kita tahu hampir semua hal tentang dirinya, keluarganya, kepribadian, karakter, bahkan sampai titik terendah dalam hidupnya. Pernah sadar nggak kalau kadang kita udah sejauh-itu masuk dalam kehidupan seseorang, dan sebaliknya? Pernah membayangkan sebesar apa kedekatan itu mampu mempengaruhi hidup seseorang?


Seperti yang pernah saya tulis disini, jatuh cinta/kedekatan itu bisa direncanakan. Tapi, satu hal yang mungkin kita lupa. Seberapa besar cinta kita ke seseorang itu nggak bisa direncanakan.
Is there a limit for how much you can love someone? Mungkin kita nggak akan tahu jawabannya sampai luka itu datang. Ya, seberapa besar kita mencintai bisa dirasakan dari separah apa luka yang didapat.

Setiap kedekatan pasti akan meninggalkan kenangan. Dan beberapa kenangan mungkin akan berujung luka. Entah itu karena perpisahan, maupun hal lainnya. Luka itu yang nantinya akan membekas dalam jangka waktu lama. So, if you're not ready fot that, just be careful for making memories with someone else. 

Maka dari itu, menjaga jarak itu perlu. Batas kedekatan itu harus dibuat. Seberapa sayang dan cinta ke seseorang, kemungkinan terburuk untuk berpisah akan selalu ada. Apalagi untuk ikatan yang nggak cukup kuat dan resmi, semacam pacaran. Jadi, just hope for the best, and prepare for the worst. And remember this, people :
Jaga diri dan jangan terlalu pakai hati selagi semuanya belum pasti.

posted from Bloggeroid
Labels :

2 komentar:

Santi Dewi said...

itu suatu konsekwensi dari menjalin suatu hubungan sepertinya ya.... :)

Mimi Hamada said...

loving can hurt but its the only thing that makes us feel alive...


PROMO BONUS DEPOSIT AWAL 10%