23.11.13

Info

LOMBA MENULIS FLASH TRUE STORY: “I’M SINGLE BUT HAPPY” (DL: 24 NOVEMBER 2013)

November 22, 2013 at 5:29am
Hai… Hai… Hai… Ketemu lagi dengan saya, Risty Arvel :)

Setelah sukses menyelenggarakan Lomba Menulis Cerita Mini Horor Dan Horor Komedi “Thirteen Gost”, dalam hal ini, saya bermaksud menyelenggarakan lomba menulis lagi, dengan tema yang lebih menarik dan lebih menantang. Sebagai gambaran singkat, lomba menulis yang saya selenggarakan di bulan ini berkenaan dengan jomblo dan single parent.

Ya, bagi sebagian orang, “JOMBLO” merupakan kutukan dan jadi bahan ledekan. Tapi, sebenarnya menjadi jomblo itu tak ada salahnya. Dalam artian positif, mereka yang menjomblo pastinya memiliki waktu lebih banyak untuk berkarya, berprestasi atau pun beribadah.

Sama halnya jomblo, “SINGLE PARENT” pun merupakan momok yang menakutkan bagi sebagian orang dan menimbulkan cibiran. Padahal seorang single parent adalah seorangsingle fighter dan orang yang mampu membagi waktu sebagai orangtua tunggal sekaligus pengasuh.

Berdasarkan penjelasan di atas, saya selaku penanggungjawab ingin mengajak saudara/i dan bapak/ibu sekalian untuk saling berbagi, saling memotivasi dan saling menginspirasi dalam Lomba Menulis Flash True Story bertema: “I’M SINGLE BUT HAPPY”.

Adapun persyaratan lomba sebagai berikut:
  1. Lomba terbuka untuk umum.
  2. Lomba dibuka dari tanggal 28 Oktober  sampai dengan 24 November 2013 (pukul 23:59 WIB).
  3. Membagikan info lomba ke minimal 25 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
  4. Like FansPage “Penerbit Meta Kata”
  5. Naskah dalam bentuk Flash True Story atau berdasarkan kisah nyata, baik yang dialami penulis maupun orang lain di sekitar penulis.
  6. Panjang naskah maksimal 500 kata, ditambah biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan.
  7. File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm, batas margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi.
  8. Naskah yang sudah memenuhi persyaratan di atas, dikirim ke email: arvelristy13@gmail.com (berupa attachmant, bukan di badan email).
  9. Tulis subjek email dan nama file: SINGLE_JUDUL NASKAH_NAMA PENULIS.
10.  Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya
11.  Akan dipilih 5 (lima) naskah pemenang yang akan mendapatkan hadiah berikut:
Pemenang 1 : Pulsa Rp 25.000 + Voucer Penerbitan Senilai Rp 150.000 + E-sertifikat
Pemenang 2 : Pulsa Rp 20.000 + Voucer Penerbitan Senilai Rp 150.000 + E-sertifikat
Pemenang 3 s.d. 5 : Voucer Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat
#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucer lainnya.
12.  Selain naskah pemenang, juga akan dipilih puluhan naskah nominator yang akan dibukukan bersamaan dengan naskah pemenang dan setiap nominator akan mendapatkan diskon 10% s.d. 20% dalam pembelian buku terbit.
13.  Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 01 Desember 2013

Oke, Selamat berkarya….

Salam,
a.n.
Penanggungjawab

(Risty Arvel)

Labels :

11.11.13

A Sunny Sunday

Jadi ceritanya, suatu hari kita berlima (Saya, Ajeng, Intan, Salman, El) janjian buat olahraga bareng di Lapangan Rampal, Malang. Kita janjian hari Minggu, jam 05.30. Lalu seperti biasa, semuanya telat dan kita baru benar-benar kumpul jam 06.30 di lokasi. Kita ke lokasi dengan cara masing-masing. Saya gowes dari rumah, Salman jogging kosan-lokasi  selama hampir 1 jam (wuih...), Ajeng bersama sepeda motornya, dan El yang juga gowes, dari kosan.

El, Salman, Ajeng, Intan, Saya

Sementara Intan batal ke Rampal karena bangun kesiangan. Ya, dia baru bangun jam 08.00 setelah nggak bales chat dan nggak angkat telpon dari kita. -____-

Foto ini diambil saat Intan (sepertinya) masih tidur pulas dirumah

Foto yang (sepertinya) bagus untuk dijadikan suatu cover-apa-gitu...

Setelah capek olahraga bareng (dan foto-foto), jam 08.00 kita memutuskan untuk lanjut jalan-jalan ke Car Free Day (CFD), Ijen, Malang. Saya boncengan sama Ajeng, Salman gowes pake sepeda saya, dan El tetap gowes dengan sepedanya. Sementara itu, Intan langsung menyusul dari rumah, dan kita ketemuan di lokasi. Saya dan Ajeng sampai di CFD duluan, lalu El sampai, dan Salman sempat hilang entah-dimana. Kata El, Salman nekat gowes menembus keramaian pasar kaget di arena CFD. Masalahnya, saat itu hp Salman dititipkan di kita, jadi kita nggak bisa menghubungi. Setelah Intan datang, kami berlima mencari Salman. Dan untungnya, Salman bisa ditemukan dengan cepat.

Di CFD, kita berlima berhenti di stand orang-orang yang hobby memelihara ular. Kita pinjam ular yang beratnya 10kg untuk berfoto-foto. Meskipun awalnya sempat takut-takut gak jelas, tapi akhirnya kita malah keterusan buat foto bareng si ular.

Foto dengan ekspresi yang nggak-karuan gara-gara ular

Setelah ular, kita berfoto-foto dengan badut berkostum Winnie the pooh. Salman dan El ngotot nggak mau berfoto bareng. Selain karena nggak ada tripod, sepertinya mereka udah punya rencana lain untuk berpose bersama si pooh. Akhirnya saya, Intan, dan Ajeng berfoto duluan bersama si Pooh. Selanjutnya, Salman berfoto sendirian dengan pose "sedang di-pukpuk", lalu El dengan pose "berpelukan" ala teletubbies.

Foto-foto bersama Pooh, cahaya-nya kacau balau... *sigh

Setelah puas di CFD, kita lanjut ke Museum Brawijaya, Malang. Disana, kami melihat-lihat senjata perang jaman dulu yang (katanya) bisa bergerak sendiri pas malam hari, semacam angker. Karena baterai kamera sudah menipis, setelah selesai berfoto-foto sedikit, kita langsung memutuskan untuk pulang. Kita juga membuat banyak rencana untuk liburan bareng, dan semoga rencana-rencana itu bisa kesampaian. Anyway, thanks for the day, guys-girls... 



Labels :

5.11.13

PKK : Cerita ABG : Karena Mereka Berbeda

Lingkungan kerja saya sangat dekat dengan para ABG dan semuamasalah yang membelitnya. Ya, saat ini saya kerja sebagai guru di sebuah SMK.

Murid-murid saya bisa dibilang termasuk kategori "super". Memang mereka bukanlah separah remaja yang sering terlibat masalah video porno, narkoba dan semacamnya. Tapi kebanyakan dari mereka seenggaknya pernah menghadapi masalah yang berat, bahkan sangat berat, mirip yang sering dialami para tokoh utama di sinetron bertema cerita ABG.

Secara umum, murid-murid kelas X yang baru masuk di tahun ajaran ini punya tingkah laku yang sangat sulit dikendalikan. Mereka sering membuat ulah dikelas, bercanda dengan cara yang keterlaluan, misalnya : hampir melempar temannya dari lantai 3 gedung sekolah, meludah di sembarang tempat, melompat pagar demi kabur dari jam pelajaran, dan berkata kasar pada guru. Parahnya, saat ditegur oleh guru, mereka hanya senyum-senyum tanpa ada rasa bersalah sama sekali.

Hubungan mereka dengan orang tua dirumah juga nggak sepenuhnya baik. Masalah semacam broken home, orang tua yang menikah lagi, dan kabur dari rumah sudah pernah mereka alami. Komunikasi antara guru-murid-orang tua pun sering menjadi berantakan. Orang tua tidak pernah tahu menahu tentang sikap anaknya yang bergejolak, bahkan informasi dari sekolah untuk orang tua pun kadang nggak tersampaikan dengan baik.

Pendidikan dan tata tertib untuk ABG yang berlangsung di sekolah kadang nggak cukup untuk membuat mereka jera, sedangkan pendidikan di rumah yang kurang akan membuat mereka selalu memberontak. Pendidikan di sekolah tanpa pendidikan di rumah nggak akan berhasil, dan sebaliknya. Untuk itu, diperlukan kerjasama yang baik antara orang tua di rumah, dan guru di sekolah.

Ya, mereka berbeda. They're not a child, and not yet an adult. Usia ABG seperti mereka memang merupakan usia yang sangat rentan. Salah penanganan akan membuat mereka semakin sulit dikendalikan. Cara terampuh adalah mendekati mereka secara personal. Saat didekati secara personal, sebagian dari mereka justru bisa sangat terbuka saat menceritakan masalah-masalahnya.
ABG seperti mereka hanya ingin didengar dan dimengerti, bukan di-judge dengan segala kenakalannya. Walaupun memang umumnya yang terlihat dari mereka hanyalah kenakalannya. 
Dalam beberapa cerita, saya bisa melihat kepribadian mereka yang lain. Kepribadian mereka yang mulai berpikiran dewasa, dan sejuta rencana mereka untuk masa depan serta membuat orang tuanya bahagia. Saya juga melihat perjuangan, pengorbanan, dan pola berpikir mereka yang kadang "dipaksa" untuk bersikap dewasa di usia mereka yang rentan.

Dulu saya berpikir bahwa cerita-cerita ABG yang ada di sinetron remaja dan FTV hanyalah fiksi yang berlebihan. Tapi saat berhadapan dengan realita di lingkungan sekitar, saya mulai percaya bahwa cerita-cerita itu juga merupakan potret nyata dari kehidupan ABG masa kini.

Dan jelas, dengan kondisi yang seperti itu akan menjadi pekerjaan rumah yang berat untuk guru dan para orang tua dalam mendidik anaknya. Bukan pendidikan yang asal-asalan, tapi pendidikan yang sebenarnya, yang akan membawa mereka menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.




Labels :

3.11.13

Antara Impian dan Restu Orang Tua

Kadang dalam hidup ini semua hal nggak berjalan sesuai keinginan kita. Faktor penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya, karena orang tua kita nggak merestui apa yang kita lakukan.

Entah kenapa, saat orang tua kita nggak merestui, hal-hal yang kita inginkan / lakukan di kenyataannya nggak akan berjalan lancar, atau malah hancur berantakan. Masalah besar akan terjadi saat kita berselisih tentang beberapa hal, misalnya tentang pilihan sekolah dan kerja, pilihan pasangan hidup, dan pilihan-pilihan lain yang nggak sesuai dengan keinginan orang tua kita. 

Kadang mereka bersikukuh bahwa pilihan merekalah yang terbaik. Terbaik untuk mereka (pastinya) dan terbaik untuk kita (seharusnya). Dan jelas, saat mereka sudah menentukan pilihan, kemungkinan besar pada akhirnya kita hanya bisa pasrah dan menurut. 
Kalau kita dituntut untuk selalu membahagiakan orang lain-terutama orang tua, lantas kapan kita bisa membahagiakan diri sendiri? -Someone, on her FB's status-
Mungkin ada benarnya. Saat kita memutuskan untuk menuruti satu persatu keinginan orang tua kita, secara nggak langsung mungkin kita udah kehilangan banyak waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk mewujudkan impian kita sendiri. "Cuma segitu aja kok yang diminta orang tua. Lakukan aja, demi mereka. Kan selama ini mereka sudah melakukan yang lebih banyak untuk anaknya." Dan selanjutnya, kita diarahkan untuk menyerah.

Kesannya  kejam juga sih, karena memang sebesar apapun pengorbanan seorang anak, nggak akan pernah cukup untuk membalas jasa orang tuanya. Atau mungkin, sebagian orang berpikir "Turuti saja orang tuamu, toh kamu juga nggak bisa memastikan apakah pilihanmu tepat,". Iya, memang. Tapi sialnya, kita juga nggak bisa memastikan apakah pilihan orang tua kita juga tepat kan..?
Kalau orang tua udah nggak menyetujui, ya "kita bisa apa"... ?
Di situlah masalahnya. Ada kalanya kita nggak bisa menentang keinginan mereka. Di kenyataannya, hanya sedikit anak yang berani mendobrak batas dan menentang keputusan orang tuanya. Mereka nekat melakukan apa yang menjadi impiannya, meski tanpa restu dari orang tuanya. Sebagian memang berhasil, bahkan bisa membuktikan dan membuat orang tua mereka bangga. Tapi sebagian lagi memilih untuk menuruti keinginan orang tua, dan mengubur impian mereka dalam-dalam, karena mereka sadar bahwa kenyataan juga nggak berpihak pada mereka. Sakit, pasti.

Labels :