28.5.17

Critical Eleven

Sudah sekian lama saya nggak me-review film (khususnya film drama "romantis"). Kalau sekitar setahun lalu, saya mereview tentang I love you from 38.000ft yang khas remaja-banget, maka sekarang saya akan mereview salah satu film drama yang sedang booming, yaitu Critical Eleven.



Film Critical Eleven berangkat dari adaptasi novel dengan judul yang sama karya Ika Natassa. Saya nonton film ini sebagai efek dari baca-baca novel Divortiare, A very yuppy wedding, dan Twivortiare (sedikit curhat). Anyway, mari kita bahas tentang filmnya

Cerita film diawali dari Anya (Adinia Wirasti) yang berada di bandara demi perjalanan bisnisnya. Bagi Anya, bandara bisa diibaratkan seperti kehidupan. Penuh pilihan menuju destinasi yang diinginkan. sama seperti kehidupan. Dalam hidup, kita selalu punya pilihan, untuk menentukan arah kemana hidup kita akan dijalani.

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.
Tagline diatas sepertinya sudah akrab sekali dengan novel ini. Dan tentu saja, tagline tersebut juga digunakan di film sebagai awal perjumpaan Anya dengan Ale (Reza Rahadian).

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
Perjumpaan Anya dan Ale terjadi saat mereka secara nggak sengaja duduk bersebelahan di dalam pesawat. Dalam 11 menit tersebut, Anya bercerita mengenai kebiasaannya yang selalu membawa a little dinosaur di setiap perjalanan bisnisnya. Somehow I wonder, that's possible if dalam waktu sesingkat itu, kita bisa bercerita se-dalam itu pada orang yang baru saja dikenal.

Well, pertemuan singkat mereka benar-benar menjadi awal dari sesuatu. They're dating, lalu Anya dikenalkan ke keluarga besar Ale, Their relationship going to be  a serious way by the proposal dalam taksi yang mereka tumpangi. Selanjutnya, they're getting married and move to New York. Anya mengikuti Ale yang ditugaskan di sana. So far, cerita mereka going so smooth tanpa masalah berarti diiringi quotes mesra sepanjang awal film.


Percikan konflik mulai terasa di pertengahan film. Saat Anya hamil dan tanpa sengaja jatuh tertabrak sepeda, Ale mulai menunjukkan sifat protektifnya. Ale merasa harus selalu mengikuti Anya demi menjaga keselamatan calon bayinya, sedangkan Anya merasa masih bisa mandiri, melakukan semua kegiatannya sendirian meskipun sedang hamil. Dari perbedaan pandangan itu, mereka sering berdebat, saling membela diri, menunjukkan ego masing-masing, dan sama-sama sulit untuk mengalah. Sampai pada akhirnya Ale pindah kerja dan mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

So that somehow, dalam pernikahan memang dibutuhkan banget sifat untuk saling mengalah, meredam ego sekuatnya, dan membiarkan pasangan ambil kendali dalam beberapa keputusan, meskipun kita pribadi masih sulit untuk ikhlas menerima keputusan tersebut. *(Proved by Anya yang akhirnya mengalah dengan meninggalkan pekerjaan dan kota New York yang dicintainya demi mengikuti Ale pulang ke Jakarta). 
Menjelang waktu melahirkan, Anya merasa tidak ada gerak bayi dalam perutnya. Di rumah sakit, dokter mendiagnosa bahwa calon bayi yang diberi nama Aidan tersebut mengalami kematian dalam kandungan. Setelah Anya melahirkan Aidan yang sudah tidak bernyawa, kehidupan mereka berubah. Rumah tangga Anya dan Ale menjadi dingin. Kesedihan yang mendalam membuat mereka menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing.

Dalam kesedihan itu, mereka saling diam. Bergelut dengan pikirannya masing-masing. Anya yang sangat merasa bersalah, dan Ale yang terus menyalahkan Anya atas kematian Aidan. Kata-kata yang saling melukai diantara keduanya membuat mereka tidak saling berkomunikasi meskipun tinggal serumah.
Setiap orang punya cara sendiri dalam menghadapi rasa duka. Meskipun cara mereka berbeda dalam menghadapi duka, bukan berarti mereka tidak merasakan duka dihatinya.
Anya menghadapi duka dengan masuk ke kamar Aidan tiap malam, sedangkan Ale dengan cara mengunjungi makam Aidan setiap minggu. Tangis mereka pecah saat bertukar cara menghadapi duka. Dimana Anya akhirnya mengerti sedalam apa Ale peduli dan mencintai Aidan, dan sebaliknya. Ale mulai memahami bahwa dibalik kesibukan kerjanya, Anya masih menyimpan duka dan rasa bersalah mendalam atas kehilangan Aidan.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari film ini, terutama dari quotes-quotes yang bertebaran sepanjang film, diantaranya :

  • With you, I've burning my bridge. there's no turning back. There's just going forward, with you. Aku akan melakukan semuanya untuk membuat kamu bahagia, Anya.
Well, kata-kata itu akan terdengar so sweet buat orang yang sedang jatuh cinta dan dimabuk asmara. Tapi, akan jadi berat saat memasuki gerbang pernikahan, dimana kita harus mengalahkan ego, mengubur mimpi, meninggalkan karir, mengorbankan diri demi keluarga, dan melakukan hal yang diminta pasangan, padahal dalam hati kita nggak menyetujui. Yakin masih bisa membuktikan I will do anything to make you happy? Belum tentu.

  • Some wish remains a wish for as long as we live. Bukan karena kita kurang berusaha, namun karena memang sudah begitulah takdirnya.”
Ada hal-hal yang akan tetap menjadi angan-angan. Sekuat apapun kita berusaha, kita nggak akan bisa mengubah karena itulah takdirinya. Angan-angan kuat Ale dan Anya untuk segera memiliki anak, segala usaha yang dilakukan demi kebaikan Aidan, dan sifat protektif Ale dalam menjaga kandungan Anya. Dan sekuat apapun mereka berusaha menjaga Aidan selama dalam kandungan, toh pada akhirnya takdir tetaplah takdir. Lalu, disinilah kekuatan cinta dalam pernikahan mereka diuji. Mampukah menerima semua takdir itu? Mampukah mengikhlaskan dan tidak saling menyalahkan? Mampukah menghadapi semuanya berdua, meskipun masih ada rasa saling kecewa terhadap pasangan?.

Dan berbagai quotes lainnya yang sarat pesan moral. Tentang kehidupan, tentang cinta yang seharusnya bisa mengalahkan segalanya, tentang ego dalam pernikahan, tentang berdamai dengan takdir dan masa lalu, tentang duka yang harus dihadapi berdua, tentang memaafkan seseorang yang sebelumnya berjanji untuk tidak pernah menyakiti, dan tentang dimana kedua orang yang sama-sama terluka mampu menemukan kembali alasan untuk saling mempertahankan.


Mostly, film yang diadaptasi dari novel, biasanya ada bagian cerita yang "dirusak" oleh skenarionya. Hasilnya, cerita dari film tersebut nggak sebagus yang ada di novel. But,itu nggak terjadi dalam film ini. Cerita dalam film tetap smooth, nggak ada adegan konyol semacam "yang meninggal akhirnya hidup lagi", dll. Meskipun, ada beberapa adegan romantis (semi-dewasa) yang sepertinya dijadikan twist dalam film ini.

Anyway, dengan segala positif-negatifnya, film ini mampu membuat sebagian besar penonton meneteskan air mata sampai menangis sesenggukan. Overall, film ini juga mampu memikat penonton melalui jalan ceritanya yang santai tapi serius, ditambah sisi humor lewat penampilan Donny (Hamish Daud). Selain itu, akting yang mumpuni dari pemain-pemain yang berkualitas juga menjadi daya tarik yang menghidupkan setiap adegan dalam film ini.

So, film ini recomended banget buat kalian yang sudah cukup dewasa, mau memasuki gerbang pernikahan, maupun sedang ada di tahap awal dalam kehidupan pernikahan. Happy watching, jangan lupa siapkan tissue! Hahaha.


Labels :

23.5.17

Kalau Cinta Harus Ikhlas

Apa yang sering ditakutkan orang saat jatuh cinta?
Banyak. Misalnya, pantas-nggak-nya, takut terluka, takut kehilangan, takut jika ternyata hanya bertepuk sebelah tangan, takut saat akhirnya nggak berjodoh, dan banyak ketakutan yang lain. Semua ketakutan itu biasanya membuat seseorang jadi nggak benar-benar memperjuangkan dia yang dicintai.

Apapun bisa terjadi. Yang awalnya ragu, menjadi pasti. Yang nggak sengaja kenal, menjadi dekat.
Bahkan mungkin, sebaliknya.
Lalu, kalau apapun bisa terjadi, kenapa kita nggak berani mencoba menjalani? 
Pantas-nggak-nya bisa kita usahakan dengan proses memantaskan diri. Takut terluka? Cepat atau lambat, kita akan terluka karena cinta. Yang harus dipahami adalah, Is she/he was worth the pain? Takut kehilangan? Bukankah semua orang pasti merasakan kehilangan? Entah karena putus, perceraian, ataupun kematian. Berakhir sebagai cinta yang bertepuk sebelah tangan masih lebih baik, karena se-enggaknya, kita pernah memperjuangkan.

Dan jodoh ataupun nggak, itu bukan kapasitas kita buat memutuskan. Karena the choice is yours, but the decision is God's kan?
Yang terpenting, saat siap memperjuangkan sesuatu, kita juga harus mau belajar buat mengikhlaskan. 
Kita harus bisa mengikhlaskan. Karena sedekat, seyakin, dan sebesar apapun keinginan kita buat bersama dengan seseorang, toh saat takdir berkata lain, mau-nggak-mau kita harus bisa menerima. Kalau nggak bisa ikhlas, kita hanya akan melukai diri sendiri dengan harapan yang berlebihan dan ketakutan yang selalu menghantui. Bahagia? Belum tentu. Capek? Pasti.

Apa dia punya perasaan yang sama? Apakah kita pantas buat dia? Apa dia hanya mempermainkan dan menjadikan kita sebagai pelampiasan? Apakah dia nggak akan pergi demi orang lain? Apakah akhirnya bisa berjodoh? Semua pertanyaan itu nggak akan jadi penghalang saat kita bisa mencintai seseorang dengan ikhlas.
Yang pasti, keikhlasan akan membuat kita menerima apapun bentuk akhir dari kedekatan itu. 
Kalau berjodoh, kita akan bisa membangun kebersamaan dengan penuh kejujuran dan keterbukaan. Kalau nggak jodoh, seenggaknya kita bisa meninggalkan kesan baik buat dia, dan yakin bahwa diluar sana, akan ada jodoh yang jauh lebih baik.
No relationship is ever a waste of your time. If it didn't bring you what you deserve, it taught you what you didn't deserve.
Yang terpenting, selalu lakukan yang terbaik saat mencintai seseorang. Dan belajar buat :
Ikhlas saat semuanya nggak selalu berbalas
Dengan itu, pelan-pelan, kita akan menjadi sosok yang lebih baik, lebih dewasa dalam menerima kenyataan, lebih tenang saat semuanya nggak berjalan sesuai keinginan.

So, kalau memang cinta, berarti harus bisa ikhlas. Ikhlas dengan apapun hasil akhir dari proses yang dijalani.


Labels :

9.1.17

Two Thousand and Sweet Seventeen

Akhirnya setelah hibernasi panjang, saya kembali sejenak buat menulis di blog ini, dikarenakan... tradisi awal tahun. Ya, tradisi membuat postingan untuk review setahun kemarin, dan harapan/ target setahun kedepan.

Well, overall, tahun 2016 was a toughest year for me. Banyak hal-hal berat yang menguras berbagai macam emosi. Both bitter and sweet. Karena hal itu juga, target setahun kemarin meleset, berantakan, dan hancur berkeping-keping *drama. 

Anyway, seperti pepatah there's always a good in every bad, banyak hal positif dalam pelajaran hidup yang saya dapat di setahun kemarin, Ya, through the darkest hours, I found home, (meminjam dari istilah yang ada dalam postingan salah satu blogger favorit saya). And home isn't a place, its a person. 

Saya menemukan that kind of home pada diri orang-orang di sekitar. Mulai dari teman se-geng yang tiba-tiba juga menjadi rekan kerja di sekolah, teman-teman lama yang kembali bersilaturahmi, keluarga yang always love you unconditionally, dan someone who always be there when I need. 

So, I would say thank you for every lesson and every bless yang memberikan banyak hal baru dalam hidup saya, yang memberikan keyakinan bahwa everything is temporary. 

Nggak ada kesedihan yang terus menerus. Nggak ada kebahagiaan yang tak pernah putus. Semua hal pasti terjadi bergantian. Akan ada pagi yang indah dibalik pekatnya malam. There will be the sunshine after the rain, the beauty in every pain, and the rainbow after the storm.  
Dan buat target 2017, cuma satu. Melanjutkan semua target yang ada di 2016. Hahaha.

Seperti kata salah seorang teman, 2017 will gonna be my year. Semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala sisi, semoga semua harapan dan target bisa tercapai, semoga semua hal baik bisa disegerakan, dan semoga banyak kebahagiaan terjadi di tahun ini. Amiin.

Two thousand and seventeen. Please be sweet as every-sweet-seventeen-celebration. And, surprise me !
Labels :

11.10.16

The Puzzle

Hello, it has been (almost) a year, after our first talk. And, I want to tell you something...

Actually, I still learn about you, about me, about us. It takes time and effort to understand about some-kind-of-things.
Ya, human is the most interesting subject to learn. A subject that have the most dynamic feeling to predict.
So did you. Sometimes I thought that you avoid me, played some tricks at me, had been a fake person with your kindness, or became so cruel by stopping the chats, then leaving me with un-answered questions. But at the other time, you can be a good listener, a nice guy that give much attention to my cranky-time, and someone that still be there to take care of me and my complicated things.


For me, you might be a puzzle out there just waiting to be solved. Being with you is like matching, adjusting, analyzing, and arranging every piece of the puzzle carefully. Sometimes I put the right pieces easily, but sometimes I made mistake by arrange the wrong pieces. I was tiring, frustating, wanting to give up so many times. But after I took a time to be without you for a while, I found myself that I still be there. 

And between the ups and down in arranging the pieces. I learn something. About life. About being nice for all the people, seeing the good in every bad, being grateful for everything we have, taking time with the patience of waiting, and enjoying every little moment without rushing anything.

As people said,
Being with someone isn't need to be the same., Its about being sweet with each other.
Just like the puzzle, there are different shapes that complete each other to make a beautiful picture. So did us. We were two people, with two different personalities, different way of solving problems, different point of view.
.
.
.
.
But no matter how complicated it gets, I hope we could complete each other. Someday. And make a beautiful picture with that pieces.


Labels :

20.7.16

I Love You from 38.000 ft

Dari dulu, saya pengen banget nonton film remaja yang dibintangi Michelle Ziudith. Kenapa...? Karena (sepertinya) film yang dibintanginya termasuk film enteng, dimana nggak perlu mikir dulu buat mencerna makna dari cerita filmnya, nggak ada adegan penindasan macam sinetron, dan biasanya ada beberapa dialog berbau romance yang bisa jadi sumber inspirasi saya dalam menulis artikel. Hahahaha.

Dan entah kenapa juga, keinginan simple saya itu nggak pernah kesampaian. Dari jaman Magic Hours sampai London Love Story. Baru kemarin, saya berkesempatan nonton film terbarunya, I Love You from 38.000 ft.


Labels :