6.9.14

Fight to Let Go

Sebenarnya, sampai kapan sih kamu bisa bertahan-dan mempertahankan seseorang disaat luka yang dirasakan semakin perih? Sampai kapan kamu akan menjadikan luka itu sebagai alasan buat mempertahankan kebersamaan yang ada? Dan sampai kapan kamu pura-pura nggak melihat pilihan untuk melepaskan semuanya? Well, Secara logika, nggak akan ada orang yang betah dilukai maupun disakiti secara terus menerus, kecuali orang masokis yang...yah begitulah.
Setiap hal mempunyai batas, termasuk batas dari seberapa-besar luka yang bisa kamu tanggung, dan seberapa kuat kamu menahan perihnya. Suka-nggak suka, mau nggak mau saat udah mencapai batas itu, akan ada satu pilihan, yaitu : melepaskan.
"Melepaskan" bukan hal yang mudah, tapi "bertahan" juga bukan pilihan terbaik. Ada hal-hal yang sebaiknya dilepaskan. Ada banyak kenangan yang sebaiknya nggak dijadikan alasan buat bertahan. Dan ada suatu keadaan dimana :
Melepaskan adalah satu-satunya cara agar kamu bahagia
Orang yang melepaskan, lalu pergi, adalah orang yang pernah mati-matian bertahan namun disia-siakan. Pada akhirnya, logika akan menyembuhkan luka itu, lalu menuntun kamu untuk pergi dari dia yang terus menerus memberikan luka. Suatu saat, dia akan menyesal karena pernah membiarkan kamu pergi, dan kamu akan menyesal karena pernah buang waktu untuk bertahan demi dia.

Benci? Nggak. Kamu sayang dia, bahkan menjauh pun rasanya nggak sanggup. Tapi kamu tahu, bahwa kedekatan akan membuat perasaan cinta jadi makin dalam, makin menyakitkan. Sedih? Pasti. Karena kamu nggak akan bisa ngobrol, menemani, bercanda, dan mendengarkan cerita-ceritanya lagi. Lega? Iya. Saat semuanya udah sejauh ini tapi nggak mungkin dipertahankan, keputusan untuk melepaskan itu pasti berat, tapi harus dilakukan.
Karena suatu saat nanti, nggak akan ada kamu yang mati-matian bertahan demi dia. Nggak akan ada kamu yang setia menunggu balasan pesan darinya. Nggak akan ada kamu yang selalu jadi pendengar setia dari semua keluhannya. Nggak akan ada kamu yang menemaninya saat kesepian. Nggak akan ada kamu yang selalu memberi perhatian disaat dia membutuhkan.
Kekuatan seseorang diukur dari seberapa besar dia melepaskan, bukan seberapa kuat dia bertahan. Dengan melepaskan, kamu dan dia akan menjadi sosok yang lebih kuat, tanpa harus terluka lagi. Karena suatu saat, melepaskan adalah keputusan terbaik yang bisa diambil, agar kamu dan dia bisa melanjutkan perjalanan hidup dengan cara kalian masing-masing.
Labels :

3 komentar:

androidismo said...

yup, sometimes move on is the best choice, hehe salam kenal :)

permaisuri said...

Orang yang melepaskan, lalu pergi, adalah orang yang pernah mati-matian bertahan namun disia-siakan. Pada akhirnya, logika akan menyembuhkan luka itu, lalu menuntun kamu untuk pergi dari dia yang terus menerus memberikan luka. Suatu saat, dia akan menyesal karena pernah membiarkan kamu pergi, dan kamu akan menyesal karena pernah buang waktu untuk bertahan demi dia.

paragraf itu aku bangettttt... hahahahaa.... pukpuk, lepaskan semua mbak..cari yang baru..anak SMK masih banyak*eh

miftah faradisa said...

androidismo : salam kenal juga...hehe

wila : ciee wila banget...udah lepas, trus kalo sama kamu aja gimana... *hoek