20.2.14

Things Happened Behind The Hatred

Pernah membenci orang sampai segininya..? Atau pernah dibenci orang sampai segitunya...? Hmmm... postingan ini terinspirasi dari curhatan beberapa orang, dan dibuat untuk siapapun yang pernah dilukai dan membenci, maupun melukai dan dibenci... *ribet
Menghilanglah dari kehidupanku...
Enyahlah dari hati yang telah hancur...
Kehadiran sosokmu kian menyiksaku...
Biarkan disini ku menyendiri...
                        Rocket Rockers : Ingin Hilang Ingatan
Mungkin potongan dari lirik lagu diatas bisa menggambarkan betapa besarnya suatu kebencian orang lain terhadap kita, dan sebaliknya. Kebencian itu udah merupakan konsekuensi dari perlakuan buruk kita pada orang lain, khususnya orang yang dekat dengan kita. Perlakuan orang sebagai akibat dari kebencian pun bisa bermacam-macam. Ada yang langsung block twitter, unfriend facebook, del-con bbm, nggak angkat telepon, nggak bales sms, bahkan sampai nggak mau menyapa kita saat nggak sengaja bertemu. Atau yang frontal semisal mengumbar kegalauan di status facebook, nyindir lewat mention-no mention di twitter, cuma "read" tapi nggak "reply", bales sms se-singkatnya, judes saat ditelepon, atau pasang muka nggak enak tiap berpapasan.

Kadang, yang dibenci juga nggak terima diperlakukan seperti itu. Mereka mengatakan bahwa si pembenci itu nggak-dewasa, labil, konyol, lebay, dll. Dan biasanya, mereka tetap ingin diperlakukan dengan baik seperti dulu. Padahal mereka nggak tahu kalau...

Nggak ada orang yang akan benar-benar baik-baik aja setelah dilukai
Sedikit-banyak, mereka yang dilukai pasti akan mengubah sikapnya. Entah itu dengan menjauh, menghindar, atau melakukan hal lain yang membuat nggak nyaman.
Mungkin yang dibenci itu ngerasa nggak terima diperlakukan secara nggak enak seperti itu. But, pernah nggak kita mikir, gimana rasanya berada di pihak yang membenci...?
Yup, kadang kita nggak melihat bahwa mereka yang dilukai pun juga ngerasa nggak nyaman dengan keadaan. Mereka juga sakit saat kejebak di keadaan yang membuat mereka memiliki rasa kebencian.
Seberapa besar kebencian mereka, sebesar itu juga lah kepercayaan dan rasa sayang mereka sebelumnya.
Mungkin mereka yang dilukai dan akhirnya membenci itu hanya butuh waktu untuk meredam kebenciannya. Nggak perlu mempermasalahkan jika mereka menjauh, atau bersikap nggak enak. Toh bagaimanapun, secara nggak langsung, kita lah yang membuat mereka seperti itu.
Karena, yah... kita bisa cuek dan bersikap baik-baik aja saat dikecewakan oleh orang yang baru kita kenal. Tapi, kalau kita dikecewakan oleh orang lama yang sangat-dekat dengan kita, masih bisa kah kita se-cuek dan se-baik-baik itu...?
Dan mungkin kita yang melukai hanya akan terbebani oleh rasa bersalah. Tapi buat orang yang dilukai, mereka akan terbebani oleh kebencian, kekecewaan, bahkan mungkin juga trauma... diatas tuntutan untuk memaafkan dan melupakan kesalahan kita. Dengan itu, bukankah beban mereka jauh lebih besar...? So, it could be a normal when they did such uncomfortable things. 

Kalau kebenciannya udah mereda, mereka mungkin bisa kembali dekat dengan kita, dalam keadaan yang lebih baik. Kalaupun mereka nggak kembali, itu juga hak mereka untuk mengakhiri segala bentuk kedekatan dengan orang yang udah mengecewakannya. Dan mungkin, "nggak-bisa-bersama-lagi" adalah keadaan terbaik yang harus dipilih, daripada tetap bersama tapi masih menahan kebencian yang belum bisa terobati.

posted from Bloggeroid
Labels :

20 komentar:

Caecilia Ayu Wulandari said...

iya banget ini.
Membenci itu memendam emosi yang bikin jadi labil dan ujung-ujungnya sadar sambil nutup muka (malu).
Dan dibenci itu gak enak banget. Mau ke toilet lewat depan kelas nya yang ngebenci kita "duh gak usah lewat situ deh". Jadi ngerasa nggak enak ato lebih pantas di bilang takut. Yakali.

Tapi yang lebih bikin nyesel itu ya membenci. Apalagi membenci nya berlebihan.
Aku yakin bakal terjadi 1 hari dimana dia merasa malu atas tingkah kebencian nya dahulu.

nazaruddin ikhsan said...

ah nih postingan aku banget dah, aku pernah merasa dibenci sampai sekarang dan itu tuh paragraf no.2 aku udah pernah ngalamin semua haha :D dan ternyata emang bener dibenci itu kagak enak, ingin mengulang saja masa lalu dan mengubah jalan cerita tapi ya sudahlah mungkin sudah jalanya dibenci :')

nazaruddin ikhsan said...

paragraf terakhirmu membuatku tiba-tiba optimis haha :D

dwi sartikasari said...

Setuju banget! Aku pernah ada di posisi yang dilukai pada akhirnya membenci. Nggak enak sih, tapi mau gimana, kadang memaafkan itu susah. Apalagi melupakan.

Pada akhirnya aku sadar kalo satu-satunya cara ya mengikhlaskan. Ikhlas pernah terluka dan sakit hati. Toh tanpa itu, kita juga gak akan tau bahagia itu kayak gimana :D

agha maruf said...

Bila berbicara kebencian sebenarnya tak bisa dilepas dari hal cinta & kasih sayang. Adanya kebencian, karena kurangnya kasih sayang. Bila emosi yang berupa benci terluapkan, yang menjadi korban yang di-benci dan yang men-benci. Dua-duanya jadi korban, yang dibenci mungkin baru nyadar kalau ia menyakiti orang yang membenci, yang membenci mungkin juga trauma karena telah dikecewakan oleh orang yang dekat dengannya.

Namun dari itu semua, setiap kita memiliki “pilihan” bersikap; apakah membiarkan kebencian mengakar di dalam diri kita atau kah kita menguasai kebencian agar segera enyah dari dalam diri?

Sip, nice post miftah... keren banget!! Bagaimana keadaan rumahmu, kena hujan pasir juga nggak??

Hanamilia Alcara said...

terkadang yang melukai menjadi lebih egois karena tidak terima dengan perubahan sikap mereka yang dilukai. Saya pun pernah merasa bahwa sayalah yang paling menderita karena rasa bersalah saya karena telah melukai. Memang kita jangan selalu melihat dari sudut pandang diri kita sekali-kali cobalah melihat dari sudut pandang yang lain.

M Hakim said...

Di benci itu emang nggak enak banget. apalagi kalo yang ng'benci uda sampe ngejelek2in dari belakang. hadehhh. ..

Meykke Santoso said...

ah, kalo boleh nebak ini soal cinta nggak?? karena ada frase nggak-bisa-bersama-lagi...aku dulu juga mengulum rasa yang sama, dikecewakan, disakiti, dan dirajam rajam. Hanya, setelah aku pikir pikir sama mandi kembang, benci jelas nggak ada gunanya..ibarat kata mempersulit hidup sendiri cc...benci itu kayak menyumpal hati dengan noda pekat...sesak dan susah bernafas. ikhlas adalah obat satu satunya, yakin kalo ini fase pendewasaan diri, dan hadapi saja, jgn menjauh. That's my opinion :)

Rahmat Hidayat said...

Tergantung, sih. Masalahnya apa dulu.
Kalau saya membenci seorang pria yang karena sikapnya udah nggak enak dilihat. Yang saya lakukan bukan menghindari, ataupun menjauhinya. Lebih baik langsung bicara didepannya. Karena mengatakan suatu hal-hal yang jelek dari belakang bukan sifat yang baik juga. Iya, katanya sih gitu, Mif. Hehe.

Nurul Prayoga Abdillah said...

duuhhhhh,, mewakili perasaan gue banget sih. semuanya benar. itu lah yang gue rasakan saat membenci seseorang dulu. Penyebabnya sih simple, cuma gegara gue dibohongin, hehe. Ehm, memang guenya aja kali yah yg sensitip. haha

Bayu P Abuna said...

Bener banget, orang yang membeci itu suatu hari kelak dia bakalan malu kalo ketemu, apalagi kitanya lebih sukses dari dia. Tapi semua orang berhak membenci orang lain, tapi atas namanya persahabatan bisanya rasa benci itu bakalan hilang dengan sendiri.

Tergantung masalahnya apa dulu sih,

Ridho Fadillah said...

ka miftah !! gue banget ni gilaak aaaaaaaaaakkkk.. malem2 baca bgini jadi mikir, uhuk banget si aduuuh. btw keadaan gua sekarang adalah, gue yang di sakiti.. tapi gue juga yang di benci. gimana tu yaa.. sakit banget, trauma jelas. thank's ka mif.. keren !

Ina Rakhmawati said...

bener banget miftah,
perasaan dan hati org kan beda2 .
ada yang kebal sehingga saking tulusnya org itu, dia gak pernah bs membenci org yg menyakitinya dan memilih utk mengikhlaskannya.
smua trgantung permasalahannya juga.

klo aku sih, seperti postingannya miftah ya,
memilih menghindar dari subyek yg berulangkali menyakiti perasaan.
males aja gitu bawaannya.
huehehhehe

Willy Anugrah said...

mbak judulnya itu typo nggak ? hatred ? hater kali. haha. Apa gue yg salah ? -__-" *hening*

taufan ajie said...

Bicara soal kebencian, menurut pengalamanku sih ... ada 2 tipe manusia yakni yang melakukan berbagai macam kesalahan dan sekali minta maaf maka langsung dimaafkan, dan ada yang sekali berbuat kesalahan udah langsung dihujat(dibenci). Kalo udah gini, jadi orang cuek aja, kalo udah minta maaf ... dan ternyata gak dimaafkan, itu udah gak lagi menjadi urusan kita. Toh manusia itu jumlahnya banyak kan ? :D Kalo aku sih gitu ._.

Rahajeng Kartika said...

Jadi.jangan berlebihan menyayangi sesuatu,karena saat sesuatu itu hilang kadar kekecewaan berbanding lurus dengan rasa sayang yg diberikan. Dan pada akhirnya kekecewaan itu bermetamorfosis jadi kebencian.. *ngomong sama cermin

miftah faradisa said...

ina : yup, tiap orang emang beda2...iya, mending ngehindari daripada berantem..haha

willy : enggak.. hater kan orangnya, kalo hatred itu "kebencian"nya..bener wil..ahaha

taufan : yup, bener banget..yang penting udah minta maaf, selanjutnya terserah si pembenci...

ajeng : nah..syuper sekali bu nyut.. :3

miftah faradisa said...

rahmat : yup, tergantung kasusnya kayak gmana juga sih sebenernya.. :D

oga : hahaha. kalo bohongnya parah sih ya emang dia yang keterlaluan, bukan km yang sensitif... :D

bayu : iyasih, bisa hilang kalo demi persahabatan..biasanyaa..

ridho : nahlo..posisi kamu double-nggak-enak dong... semangatt..hahaha

miftah faradisa said...

hana : iya, harus lihat dari dua sudut pandang...soalnya ternyata kedua pihak sama2 terluka, cuma beda porsinya...hehe

hakim : iya, itu sih ngeselin banget..

meykke : nggak melulu soal cinta sih..nggak bareng2 itu maksudnya nggak bisa deket bersahabat dan kemana2 bareng, nggak hanya soal status..hahaha

miftah faradisa said...

cecil : yup, nggak enak dan jadi beban...walaupun ujung2nya yang ngebenci bakalan nyesel..hahaa

nazar : iya, nggak usah ngulang...masa lalu itu bukan buat diulang...hahaa

dwi : iya, memaafkan itu susah..dan ikhlas itu lebih susah lagi..hahaha

agha : iya, kebencian itu pilihan.. maksih gha...