10.7.14

Pelajaran dari Sebuah Luka

Ini bukan (sepenuhnya) tentang luka hati. Tapi ini tentang luka beneran (gara-gara kecelakaan) dan tentang kehidupan... *tsahh...

Ceritanya, beberapa hari lalu saya jatuh dari motor saat dibonceng teman. Awalnya, semua baik-baik aja di perjalanan. Kita cekikikan sambil menggosip sana-sini (maklum, kerjaan cewek-cewek). Sampai di dekat suatu perempatan, motor didepan kita ngerem mendadak. Teman saya jelas kaget, lalu ikutan ngerem mendadak. Dan...braaakk...motor kita menabrak motor didepan, dan dua motor di belakang ikutan menabrak kita. Iya, tabrakan beruntun 4 motor, dan kita ditengahnya. Lalu semua motor beserta pengendaranya jatuh.

Dan...kita yang paling parah. Kondisi motor berantakan. Kedua spion, lampu depan, dan penutup ban depan pecah. Teman saya mendapat luka di lutut kaki, lengan, dan tangan. Sementara saya cuma luka di lutut kaki. Iya, cuma satu luka tapi sakitnya bertahan berhari-hari. Dari kecelakaan itu, saya belajar beberapa hal, yaitu:



We never know about what would happen, so just be careful. Kita nggak tahu dan nggak nyangka kalau bakalan tabrakan, bahkan beberapa detik sebelumnya kita masih baik-baik aja. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, even satu detik kemudian. Jadi, selalu berhati-hati buat menghadapi apapun yang akan terjadi.
Always hope for the best, and prepare for the worst. Selalu berharap hal-hal baik, dan bersiap buat menghadapi hal buruk.

We need someone. Meskipun kecelakaan itu bisa dibilang nggak-terlalu parah, toh saat itu kita tetap butuh bantuan orang lain buat meminggirkan motor, dan menepi sebelum di-gilas kendaraan yang ada di belakang. Dan beberapa detik pasca kecelakaan, perasaan kita masih campur aduk antara kaget, takut, bersyukur (karena masih selamat), dan...pengen cerita buat berbagi (penderitaan).
Jadi, nggak peduli se-mandiri apapun, kita tetap jadi makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Entah itu buat membantu, atau sekedar butuh teman curhat/cerita.
Begitupun saat habis mengalami hal-hal tertentu di hidup ini, both sad or joyous. We need someone to share. And when you decided to nggak-mau-cerita ke orang tua karena nggak-mau-bikin-khawatir, keberadaan seseorang yang mau-mendengarkan-cerita kita akan sangat membantu. Entah itu keberadaan sahabat, gebetan, mantan, pacar, selingkuhan, HTS-an, TTM-an, teman biasa, best friend, close friend, atau mungkin friend with benefits. 
No matter what's the status, at least you just need someone to talk and share. Dan mungkin kita juga bakalan dapat "Perhatian lebih" dari mereka sebagai bonusnya.

You could be super-cool with your negative side, but when you dead, you dead. Kita bisa ngerasa jadi orang yang keren-banget dengan segala kenakalan, tingkah laku, dan sikap terhadap orang lain. Ngerasa keren setelah membalaskan dendam, ngerasa cool karena berhasil ngebut-ngebutan di jalan, mabuk-mabukan, menang tawuran dan taruhan, atau berhasil nge-player dengan mempermainkan banyak hati... *uhuk. Tapi ketika kematian menjemput, it doesn't make a sense. Se-cool apapun, toh pada saat udah kehilangan nyawa kita nggak akan bisa bertingkah lagi. Jadi, pastikan bahwa sebelum melakukan sesuatu yang keterlaluan, kita udah siap buat menanggung semua resikonya, termasuk yang terbesar yaitu kematian.
Kalaupun kita melakukan semua hal negatif karena berniat "memberontak" atau "membenci dan berusaha merusak diri sendiri", selalu ingat bahwa seburuk apapun kita, akan ada orang yang berharap bahwa kita bisa jadi sosok yang baik dan lebih baik.
Se-pengen apapun kita ngebut di jalanan, selalu ingat bahwa di rumah ada keluarga yang setia menunggu kepulangan kita. Se-brengsek apapun kita dengan tawuran, mabuk, balas dendam, dan menyakiti hati orang lain, selalu ingat bahwa akan ada orang yang berharap kita bisa memaafkan, meminta maaf, dan meninggalkan kebiasaan buruk itu.


The wound would be the best warning. Kecelakaan kemarin udah meninggalkan luka di lutut yang membekas. Itu yang mengingatkan bahwa perihnya ngobatin luka pakai betadine masih kalah jauh dengan perihnya membersihkan luka dengan alkohol... (Oke, bukan itu intinya). Jadi, beberapa kejadian akan meninggalkan luka buat kita. Entah luka hati atau luka fisik dan luka beneran.
Luka (dan perihnya) itu akan jadi pengingat terbaik agar kita nggak melakukan kesalahan yang sama. Kesalahan yang nantinya membuat kita mendapatkan luka yang sama, bahkan mungkin lebih perih.
Jadi kesimpulannya, jangan jadikan luka sebagai alasan kita buat nggak melakukan apapun. Tapi, jadikan sebagai pelajaran terbaik buat hidup yang lebih baik... *ribet.
Labels :

4 komentar:

permaisuri said...

huahahahaha..dipost jugaaa.. hedeeeh..mbak masih sakit dengkulnya? dengkulku malah nggak sakit, yang sakit sampe sekarang malah tanganku T T

Nurul Huda said...

wah Kak Mif, berasa beda banget main ke sin itahun ini sama tahun kemarin.. Sekarang inspiratif semua ya, isinya.

Bahkan dari sebuah kecelakaan, ada banyak hal-hal baik yang bisa disyukuri, yang bisa diambil. Hikmahnya bertebaran, kemarin aku juga sempet mengalami kecelakaan kecil--pas lagi macet--, gara-gara ngelamun, tapi untung, sih, gak parah. Haha..

Elang Wicakso said...

iya nih keren! memandang satu masalah dari sisi positif. GWS :D

miftah faradisa said...

wila : iya wil, lumayan sih,,, GWS wil, kamu yang lebih parah soalnya... :|

huda : thanks hud, hahaha... GWS hud..

elang : yups, thanks lang..