3.11.13

Antara Impian dan Restu Orang Tua

Kadang dalam hidup ini semua hal nggak berjalan sesuai keinginan kita. Faktor penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya, karena orang tua kita nggak merestui apa yang kita lakukan.

Entah kenapa, saat orang tua kita nggak merestui, hal-hal yang kita inginkan / lakukan di kenyataannya nggak akan berjalan lancar, atau malah hancur berantakan. Masalah besar akan terjadi saat kita berselisih tentang beberapa hal, misalnya tentang pilihan sekolah dan kerja, pilihan pasangan hidup, dan pilihan-pilihan lain yang nggak sesuai dengan keinginan orang tua kita. 

Kadang mereka bersikukuh bahwa pilihan merekalah yang terbaik. Terbaik untuk mereka (pastinya) dan terbaik untuk kita (seharusnya). Dan jelas, saat mereka sudah menentukan pilihan, kemungkinan besar pada akhirnya kita hanya bisa pasrah dan menurut. 
Kalau kita dituntut untuk selalu membahagiakan orang lain-terutama orang tua, lantas kapan kita bisa membahagiakan diri sendiri? -Someone, on her FB's status-
Mungkin ada benarnya. Saat kita memutuskan untuk menuruti satu persatu keinginan orang tua kita, secara nggak langsung mungkin kita udah kehilangan banyak waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk mewujudkan impian kita sendiri. "Cuma segitu aja kok yang diminta orang tua. Lakukan aja, demi mereka. Kan selama ini mereka sudah melakukan yang lebih banyak untuk anaknya." Dan selanjutnya, kita diarahkan untuk menyerah.

Kesannya  kejam juga sih, karena memang sebesar apapun pengorbanan seorang anak, nggak akan pernah cukup untuk membalas jasa orang tuanya. Atau mungkin, sebagian orang berpikir "Turuti saja orang tuamu, toh kamu juga nggak bisa memastikan apakah pilihanmu tepat,". Iya, memang. Tapi sialnya, kita juga nggak bisa memastikan apakah pilihan orang tua kita juga tepat kan..?
Kalau orang tua udah nggak menyetujui, ya "kita bisa apa"... ?
Di situlah masalahnya. Ada kalanya kita nggak bisa menentang keinginan mereka. Di kenyataannya, hanya sedikit anak yang berani mendobrak batas dan menentang keputusan orang tuanya. Mereka nekat melakukan apa yang menjadi impiannya, meski tanpa restu dari orang tuanya. Sebagian memang berhasil, bahkan bisa membuktikan dan membuat orang tua mereka bangga. Tapi sebagian lagi memilih untuk menuruti keinginan orang tua, dan mengubur impian mereka dalam-dalam, karena mereka sadar bahwa kenyataan juga nggak berpihak pada mereka. Sakit, pasti.


Orang tua akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Meskipun kadang keputusan mereka belum tentu tepat dan terkesan "paling benar" dalam menentukan jalan hidup anaknya. Sedangkan si anak juga ingin meraih impian yang menurutnya terbaik, meskipun kadang harus beradu argumen untuk meyakinkan orang tuanya demi mendapatkan restu mereka. Mungkin hubungan orang tua dan anak sering menjadi rumit, padahal tujuan mereka sama, yaitu mencari keputusan yang terbaik.
Kamu nggak akan pernah tahu rasanya, sebelum kamu berumah tangga, memiliki anak, dan menjadi orang tua yang seutuhnya seperti kami. 
Ya, mungkin serumit cara untuk memahami kalimat diatas. Kalimat yang selalu diucapkan para orang tua untuk meredam keinginan anaknya dan membuat mereka nggak berkutik dalam menghadapinya. *sigh...


24 comments:

agha maruf said...

Bila membaca tulisanmu, aku menjadi teringat kisah temanku yang masuk universitas bergengsi di Bandung. Hal itu berkat doa orang tua, padahal secara ekonomi ia tidak bisa lolos ke tempat perkuliahan tersebut. namun, ada juga beberapa temanku yang menentang orang tua, dan akhir episode kehidupannya justru jauh dari harapannya.

Saya sangat setuju dengan sabda nabi “Ridhallaahi fi ridhal waalidaini, wa sukhtullaahi fi syuktil waalidaini” Keridaan Allah terletak kepada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah terletak kepada kemurkaan kedua orang tua. Tentu, tak serta merta mematahkan tanpa mengunyah, perlu juga berkompromi terhadap orang tua agar bisa saling memahami antara apa yang diinginkan anaknya, dan apa yang diharapkan oleh mereka.

Oke, terimakasih.. tulisanmu benar sekali. Aku menjadi terinspirasi.. sip, tulisannya bermanfaat.

Fentaria H.B said...

Itu kok berasa statusku yoo -_____-

Dreams said...

Tulisannya ngena, banyak manfaat banget..
Makasih ya :)

Elang Wicakso said...

Kenapa Mif? ada proposal yg ga disetujui ortumu? kesannya bete bgt sama doktrin membalas jasa orang tua. Diatur ajalah gimana caranya biar bisa imbang. Aku juga pernah kok sekali kali memberontak sama keinginan ortuku dan akhirnya berbuah manis. Ngga selalu sih tapi. Dipikir secara matang aja apa yg mau kita lakukan!

Beity A.W. said...

kalo menurut aku, dan buat aku sendiri, nurut sama orang tua itu kayaknya susah minta ampun.. orang tua bilang a, tp kita maunya b. orang tua bilang b, kita maunya c. gitu-gitulah.. tapi sebenernya... orang tua itu lebih banyak pertimbangannya daripada kita.. orang tua manapun di dunia, pasti pengen yg terbaik buat anaknya.. hanya saja, cara menyampaikannya yg berbeda-beda. tinggal pinter-pinternya kita komunikasi sama mereka aja. pasti ngerti kok :D

Rahmat Hidayat said...

Nah, ini pertanyaan yang pernah saya alami, Mif. Kita semua tau, orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk si Anak. Makanya orang tua turut memberi keputusan apa yang akan di lakukan sama anaknya.Tapi, belom tentu keputusan mereka bener.

Ya, mau gak mau, daripada dibilang anak durhaka. Harus ikutin apa kata orang tua. Kecuali, si Anak bisa membuktikannya. Mungkin, bisa dipertimbangin. Tapi, gimana mau membuktikan. Kalo ngelakuin aja belom, gegara gak dapet restu. Jadi, bingung gini kan. Hahaha.

Nurul Huda said...

Ya, kalo aku sih.. Diem-dieman sama ortu, aku gabilang kalo aku suka ini suka itu mau jadi ini mau jadi itu. Tapi kalo udah hampir mencapai atau udah ada jalan untuk kesana, baru minta doa restu. Mau ga mau ortu akhirnya gapunya pilihan selain setuju. Tapi tapi tapi, ortu juga manusia.

vien cenizity said...

iya sih memang susah kalau kayak begitu, semua anak pasti pernah mengalami,nya
tapi gmna lagi keputusan orang tua pasti keputusan terbaik untuk buah hatinya hohoh
#kalau gw sih nurut aja sama orang tua, biar sesuatu yang kita kerjakan lebih muda karena doa dari mereka

Zhie Cha Smile said...

idealnya sih harus ada pengertian antara ortu dan anak cuma memang rada susah.. pemahaman ortu dan anak kan juga berbeda... tapi apapun yg ortu harapkan it adalah untuk kebaikan meski kadang berbda dg keinginan anak...duuhhh kok ujung2nya ni masalah ortu dan anak jd dilema yah:')

Triyan Arief Wibowo said...

sampai sekarang gue gak pernah buat mnentang apa yang dibilang orang tua. semua doa dari orang tua itu buat kelancaran gue selama ini....

Dwi Oktanto said...

aku jadi bersyukur, orang tuaku gapernah nuntut aku buat kesana-kesini... semua pilihan ada di tanganku, dan aku harus mengejarnya sendiri.. :)

semangat ya, yang memiliki masalah seperti ini. aku gag tau mau membaeri masukkan seperti apa..

miftah faradisa said...

agha : iya, aku juga setuju...makasih ya..

penta : iyo paling ya...haha

win : hehe. makasih ya...you're welcome...

miftah faradisa said...

elang : iya lang, proposal gede..nahh..emang nggak selalu harus memberontak di semua hal sih...tapi ya kalo di suatu hal, jadi susah negonya... -_-

beity : ada hal2 yang entah kenapa nggak bisa dingertiin...

mat : iya, kadang jadi mikir gitu juga...dan tetep bingung plus serba salah..makanya ending postingan ini jadi menggantung...haha

miftah faradisa said...

huda : nah iya, takutnya pas pake cara itu, ortu malah sakit hati..bisa makin ribet urusannya...huft

viecky : nah...iyasih, pilihan paling amannya ya emang nurut gitu...hmm..

zhie : iya zhie...dilema banget...serba salah.. dan rumit...

Moti Peacemaker said...

masyaallah..tulisan miftah dan bang agha ma'ruf ini bisa jadi motivasi untuk semakin menghormati orang tua dengan apa yang diucapkan..yups....“Ridhallaahi fi ridhal waalidaini, wa sukhtullaahi fi syuktil waalidaini”

miftah faradisa said...

triyan : dan bersyukurlah kalo keinginan kamu sejalan dengan keinginan ortu..hahaha

okta : nahh...enak kalo bisa kayak gitu..iyasih, akhirnya emang bingung juga di penyelesaiannya...

Aji Pgg said...

Mungkin sebagia orang faktor ini lah yang menjadi pertentangan antara kemauan ortu dan tujuan diri sendiri

miftah faradisa said...

yap, bener banget...makasih ya...

miftah faradisa said...

iya, begitulah ji...akhirnya jadi dilematis..

Robianus Supardi said...

Gue termasuk salah satu diantara orang diluar sana yang sesekali berontak pada keinginan orang tua. Elu gimana?

agha maruf said...

oke, smaa-sama..

Greatnesia said...

Kalu aku sih selama yang menjadi keputusan orang tua tidak bertentangan dengan ajaran agama dan masih masuk akal, dicoba aja untuk dijalani dulu.

Unknown said...

pada kenyataannya mas, tidak semata2 yang namanya ortu selalu dalam posisi benar. itu pendapat saya,.. harus didiskusikn dl, apakah memang alasan orang tua itu benar, bisa cari refrensi dl dari sisi agama, atau ilmu-ilmu lainnya. kalau memang kata-kata mreka sudah sesuai refrensi,patut di pertimbangkn dan di ambil jln tengahnya,.. tapi kalau memang tidak sesuai refrensi apalagi refrensinya dari aturan agama, harus kuatkn diri, dan meyakinkn ortu tntang pndpt kita.. karna saya jg mngalami hal-hal trsebut,. blm tw nasib saya sperti apa, alhmdulillah skrng suudah di ridhoi,.. tp saya berusaha mncari refrensi yg mnrt saya tindakan saya bs d benarkan,.. bukan hanya saya, d sekeliling saya da sodara2 yg mengalami hal fatal karna tidak brani mendobrak alasan dari ortu yg salah,tidak sesuai porsinya,akhirnya mnderita sndiri, dan tak bs menyalahkn siapapun,.. jadi harus di cermati baik2,kasusnya seperti apa..

Arfan uWONG JOWO said...

setelah baca catatan di atas ana rasa ny bersalah bnget ama ORANG TUA ANA .. terimakasih SOBAT